Agustus 2010



Info: Sebenarnya ini mau ku upload tadi malam (29/8/10), tapi berhubung banyak gangguan dari FB, YM dan Twitter + telpon dari Nyokap (I lup U Mom.. :)), maka dipending dan sekaranglah saat yang tepat untuk meng-unggah :mrgreen: Kita mulai saja acaranya.

Btw, kenapa habis tarawih jadi ada ide buat nulis di blog ini? Jangan-jangan, masa subur ku, 😛 eh produktifku jam-jam segini ya…. Tulisan berikut, anggap aja tulisan nggak penting sebelum aku mudik

Ok, Mari kita kemon (serius: mode ON)

Minggu terakhir di Bandung kali ini mungkin menjadi minggu berat bagiku. Disaat orang-orang sibuk melaksanakan puasa, aku malah sibuk mikirin MUDIK..*loh.. apa hubungane?? Namun selain mudik diatas disini kutulis aja list, penderitaan yang kualami (*lebay.com, curcol.com)

1. Otak ini udah nggak konsen lagi disini, mudik..mudik..mudik..

image

2. Ari Tagok, Toloy a.k.a Anok, Emil + Poni tadi pagi udah cabut dari Bandung dan menuju kampuang nan jauah di mato (baca: Padang)

DSC_0287Taken from Papyrus Studio with Nikon D3000 😀

3. Akhir bulan, yang emang lagi bokek2nya.. Dompet tadi siang, sempat sisa Rp.5000 *shock!. Untung ada ATM tercinta… hehehe..

image Jadi ingat si Miss Rp.5000 Huahaha….

3. Tiba-tiba adik2 di rumah meminta oleh-oleh macam2 sampai ada yang minta lensa kamera DSLR, sandal crocs asli, kardigan, bla..bla..bla…. *Sori Dek, nggak ada suntikan dana, nggak ada barang + akhir bulan yang sulit. Jadi yang bisa dibeli maks/adek 100K. 😀

image

(lebih…)


Latar Belakang: (font 14 TNR, ini mau nulis paper ya) 😀

Aku Masih dalam kondisi emosi dari siang tadi (*sabar.. ingat puasa San) akibat internet di kos yang jelek dalam optimasi bandwidth nya (baca kurang optimal) dan mikrotik yang hanya dipakai untuk membagi bandwidth. Bayangpun, si teknisi speedol (a.k.a Speedy) dalam membagi bandwidth hanya memakai prinsip bagi rata. Bagus sih, tapi tidak optimal. Misalkan bandwidth speedy 2MB dan dipakai oleh 10 orang maka otomatis setiap orang dapat jatah bandwidth 2MB/10 = 200-256Kbps. Ini kalau 10 orang online semua, wajar setiap orang dapat bandwidth segitu.

Gimana, kalau yang makai internet cuma 2 orang?? Optimalnya khan mereka dapat bandwidth yang lebih besar yaitu 2MB/2 = 1MB. Namun kondisi tersebut tidak tercapai karena prinsip bagi rata tersebut yaitu tetap sebesar 256Kbps. Harusnya dipakai sistem manajemen bandwidth dinamis yang berubah tergantung banyak user. Di mikrotik fitur ini  ada pada PCQ (Per Connection Queue). Dan waktu kutanya teknisi mengenai manajemen bandwidth dinamis dia jawab apa?? TIDAK TAHU!!! Ini teknisi atau tukang pasang kabel telpon? *jadi emosi!!!*

Sebenarnya manajemen bandwidth ini sangat dibutuhkan untuk koneksi yang sifatnya share karena jika tidak di manage, maka otomatis barangsiapa (hayo punya siapa? :P) yang sedang men-download otomatis seluruh jatah bandwidth menjadi milik pen-download (pengalaman pribadi selaku mantan bandwidth eater :mrgreen:). Namun manajemen yang buruk berakibat tidak optimalnya penggunaan bandwidth besar namun yang didapat kecil. Bayar barang mahal, kualitas KW 5… hehhhehe…. *lebay

Solusinya ya, dengan mengatur ulang konfigurasi mikrotik yang bertanggung jawab dalam manajemen bandwidth. Namun apa dikata, tangan tak sampai karena mikrotiknya di tarok di rumah si Ibu Kos. Coba kalau di kos, udah ku ubrek2 si mikrotik itu, kalau bisa kubakar (apinya warna biru) biar nggak pakai manajemen bandwidth lagi, tapi pakai manajemen hati kalau lagi pengen download (maksudnya kalau download liat dulu, lagi rame atau nggak, kalau lagi sepi HAJARR!!!) *idealnya.. Hohoho… 😛

Aku juga ada rencana buat bobol langsung si mikrotik dari kamar (istilah kerennya nge-HACK) dan belum berhasil hehehe… 😦 Dan sekarang lagi proses mencari celah lain supaya bisa akses ke konfigurasinya mikrotik. Mohon do’a restu semuanya. Tapi nge-HACK dosa nggak ya di bulan puasa?? Huhuhuhu….  Atau kalau ada yang tahu metode yang lain please tell me.. 😛

Nah, sampai saat ini ada beberapa orang yang tidak setuju dengan manajemen bandwidth seperti ini, dan perlu pengerahan massa ke rumah Ibu Kos.. *loohh.

Kalau aku pribadi lebih senang yang ngurus internet anak-anak di kosan aja. Maklum dulu sempat selama 6 bulan lebih jadi admin (tukang pantau jaringan, tukang tagih duit + tukang bayar ke kantor telkom :D) ketika kos di Jogja. Hehehe…

*maka welcome to 32KB/S, yang seharusnya 200KB/S 😀

**maaf, nggak ada gambar berhubung lagi emosi, (apa hubungannya dodol??)


Kalau bahasannya agak berat lebih baik dibaca aja.. hehehhe….

image

Disini nggak akan bahas tentang GPS dan segala tetek bengeknya, jadi cukup tahu sistem GPS berfungsi sebagai untuk penentuan posisi di muka bumi. TITIK!

GPS perlu di assist (bantu) lagi?? Padahal GPS sendiri sistem yang membantu dalam penentuan posisi. Kenapa ya?

Nah begini ceritanya Gan:

Receiver GPS tahu fungsinya apa?? (kalau udah tahu, baca paragraf selanjutnya) 😀

Yap, Reciever GPS kabarnya 😛 berfungsi menerima sinyal satelit yang dipancarkan satelit GPS yang berana di nun jauh di angkasa sana. Nah, si  receiver ini menangkap sinyal GPS yang “kebetulan” lewat di atas si reciever. Sinyal yang ditangkap tidak hanya dari satu satelit, tapi sebanyak mungkin satelit yang dapat ditangkap (bahasa lainnya diamati) oleh si reciever. Sinyal yang ditangkap oleh si receiver di kalkulasi oleh receiver dan hasil akhirnya adalah koordinat posisi reciever tersebut. Proses kalkukasinya silahkan cari di internet atau baca buku Pak Hasanuddin Z. Abidin : Penentuan Posisi dengan GPS dan Aplikasinya :promosi: Understand?? :mrgreen:

Masalahnya, sinyal yang diterima oleh receiver kadang sinyal yang lemah atau sinyalnya terfragment. Bisa juga pada wilayah reciever tersebut memiliki obstruksi (halangan) yang besar sehingga sinyal yang didapat bukan sinyal yang full. Multipath (sinyal hasil pantulan, bukan langsung dari satelit GPS) juga momok bagi sinyal GPS. Sumber maslah lain seperti noise ionosfer, troposper, SA, AF dan lainnya. Silahkan baca buku diatas. 🙂

Nah bagaimana solusinya: Salah satunya dengan memakai reciever GPS yang memiliki sensitifitas yang tinggi dalam menerima sinyal (Kita bicara dalam segmen user bukan segmen angkasa). Solusi ini merupakan solusi yang cukup bagus, tapi tidak ekonomis dalam harga, karena tentu saja produksi GPS dengan sensitifitas tinggi memiliki cost yang tinggi pula.

Bagaimana untuk solusi yang “agak” murahnya? Salah satunya (yang aku tahu tentunya :D) dengan memakai sistem A-GPS (Assisted GPS). Disini si GPS receiver dibantu dalam penentuan posisinya. Siapa yang membantunya? Baca paragraf dibawah deh.

(lebih…)


Lapor

Ini hari pertama kuliahku di semster ketiga yaitu tanggal 9 Agustus 2010, sehari setelah ulang tahun adikku Welan kemarin (penting ya?? :P).

Kuliah dimulai jam 15.30 dikarenakan sang dosen tidak mengetahui ada kuliah untuk S2 sore harinya… LOOO. Oh ya, sang dosen yang mengaku bernama Samsul Bachri (dan bukan orang Padang :mrgreen:) mengajar kuliah Penginderaan Jauh Akuatik atau nama kerennya Marine Remote Sensing.

Di kuliah pertamaX ini, masih mereview mengenai Remote Sensing, rule of class, jadwal kuliah yang akan diganti dan tentu saja tugas pertamaX!! 😦

Ok. sekian dulu.

Laporan Selesai

*dan sepertinya kuliah ini akan kubatalkan..

:mrgreen: :mrgreen: :mrgreen: